
Rencana pertamina menikan harga elpiji khususnya untuk ukuran 12 kg sebesar 17,6 % atau naik dari Rp 51.000, menjadi Rp 60.000 per tabung, Tentu akan menuai pro dan kontra dimasyarakat. Namun yang patut dinanti adalah adakah kompensasi laiknya kenaikan harga BBM? Sewajarnyalah kita berharap akan adanya BLT dan BKM jilid 2
Sebagai bentuk kompensasi kenaikan dan pengalihan subsidi BBM, pemerintah menggulirkan program bantuan langsung tunai (BLT) dan bantuan khusus mahasiswa (BKM) untuk masyarakat dan mahasiswa kurang mampu. Besarnya masing-masing adalah Rp 300.000 per 3 bulan untuk BLT dan 500.000 persemester untuk BKM. langkah yang dinilai pemerintah sebagai langkah paling manusiawi dan efektif sebagai dampak kenaikan harga BBM.
Jika kenaikan elpiji benar-benar terjadi, maka satu hal yang perlu dtunggu adalah kompensasi apa yang akan diberikan pemerintah.?
Menurut saya, pemerintah seharusnya menggulirkan BLT dan BKM jilid 2 sebagai konsekuensi atas rencana kenaikan elpiji. Pasalnya bagaimanapun elpiji saat ini sudah menjadi kebutuhan primer dan sentral dalam kehidupan. Dampak kenikan harga elpiji akan sama laiknya kenaikan BBM yaitu beban hidup masyarakat yang semakin bertambah , disertai kenikan harga-harga lainnya.
Mahasiswa dan masyarakat adalah kelompok yang akan terkena dampak langsung dari kenaikan tersebut. Masyarakat dalam hal ini ibu-ibu rumah tangga adalah konsumen tetap elpiji. sementara mahasiswa merupakan pemakai ‘produk’ yang pengolahannya menggunakan jasa elpiji, seperti makanan..
Jika harga elpiji tetap dinaikan, mungkin bias dibayangkan mahasiswa mau makan apa? Karena Tempe dan tahu sebagai menu utama harian pun pastilah akan mengalami kenaikan..
Demikian halnya dengan ibu-ibu rumah tangga, Dengan apa mereka akan memasak air, menanak nasi ataupun mengolah makanan?. kembali menggunakan minyak tanah sangatlah tidak mungkin. Karena harga saat ini sudah membumbung tinggi, yaitu diatas Rp 2.500 per liter. Mungkin jalan terakhirnya adalah kembali pada zaman klasik yaitu menggunakan bahan baker kayu. Tetapi ini sangatlah mustahil sekali, karena masyarakat saat ini adalah masyarakat modern yang dituntut praktis, efektif dan efisien.
Kenikan elpiji hanya akan menambah lengkapnya rentetan penderitaan rakyat., terlebih pasca kenaikan harga BBM. Kenaikan BBM berdampak pada kenaikan bahan baku produk. Sedangkan naiknya elpiji berarti menikan harga output produk tersebut.
Oleh karena itu sangatlah relevan jika pemerintah pun seharusnya memikirkan BLT dan BKM jilid 2.
.Perlu oligopoly pasar
Kenaikan harga, baik BBM, minyak tanah maupun elpiji tidaklah semata-mata dikarenakan kenaikan harga minyak dunia. tetapi ada factor lain yang mempengaruhinya, yaitu monopoli pasar oleh pertamina sebagai pemilik otoritas tunggal terhadap perminyakan di Indonesia.. Dengan adanya monopoli pasar, produsen menjadi ‘bebas’ dalam menentukan harga dipasar.
Mungkin kita perlu belajar dari kasus perusahaan telekomunikasi di Indonesia sewaktu masih dimonopoli oleh satu perusahaan. saat itu harga untuk sebuah kartu handphone saja, sampai ratusan bahkan jutaan rupiah. Namun dewasa ini dengan adanya kebijakan pemerintah untuk meng’oligopoli’kan pasar, yaitu dengan mempersilahkan perusahaan lain turut masuk dalam persaingan pasar, harga-harga terkait jasa seluller pun semakin murah.
Agaknya ini pula yang perlu dicoba untuk diterapkan pada perusahaan perminyakaaan ditanah air. Saatnyalah sikap demokratis , dengan mempersilahkan perusahaan lain untuk masuk dalam arena persaingan pasar perminyakan (oligopoly). Hal ini bertujuan untuk menciptakan harga minyak yang lebih kompetitif .
Jumat, 26 Desember 2008
Menanti BLT dan BKM jilid 2
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar